KEN AROK TOKOH REVOLUSIONER ABAD XIII (EDISI I/220711) BAG. I


PENDAHULUAN A. KESEJARHAN KEN AROK

Jaya! Rahayu widada mulya.

Para Kadang yang kami muliakan, hikmah dari penayangan layar kaca Trans TV dengan judul On the spot .. yang oleh para penggemar keris dan budaya Jawa dicomplain berat bahkan akan disomasi telah membelalakan mata dan menumbuhkan rasa keprihatinan yang dalam karena bangsa ini telah kehilangan daya nalar dan rasa ing pangrasanya sehingga budaya adi luhung warisan para MPU yang telah ditetapkan oleh UNESCO bahwa keris sebagai warisan budaya dunia justru dinafikannya sendiri oleh anak bangsanya. Quovadis!

Kita alpa bahwa bangsa yang maju itu ternyata bangsa yang masih tetap memegang teguh budaya spiritualnya lihat Jepang, dapat maju karena “SHINTO”nya; Israel dengan “KABALA”nya dan RRC yang kini merupakan ancaman serius bagi AS karena hegomoninya nyaris di segala bidang yang akan menenggelamkan ke adi dayaan negeri Paman Sam itu, karena budaya Kong Hu Chu dan atao TAOnya yang juga diikuti oleh Korea Selatan. lalu Indonesia yang punya PANCASILA justru oleh anak2 bangsanya dilecehkannya bahkan ada yang mengharamkannya.

Keris adalah adalah produk para MPU yang adiluhung yang penuh dengan nilai filosofis, estetis, isoteris dan dan lain sebagainya. Sayang adanya infiltrasi spiritual yang serta merta diangapnya musrik maka nyaris masyarakat Jawa yang bajunya kini berbeda dengan Sam MPU tak lagi menghargai dan menghormati maha karya para pendahulu kita. Sering kita terkecoh bahwa kemusyrikan kita lebih berat ketimbang keris karena telah menganggap diri kita paling benar, paling berhak, paling baik dalam Berketuhanan sementara sejatinya yang kita sembah pun belum tahu, belum kenal, belum paham siapa sih gerangan GUSTI ALLAH itu? Kita terjerumus dengan pikir dan kayal pribadi kita karena kita lalai tidak (tahu, mau dan mampu) mengenal diri kita pribadi, sedangkan sabda Rasulullah amat jelas “Barang siapa kenal akan dirinya maka niscaya akan kenal pula pada TUHAN – nya dan barang siapa yang mengenal pada TUHAN-nya maka dia merasa amat bodoh atas ilmu (NYA)”.

Acara yang menghebohkan tersebut, sayang kami tidak mengikutinya sehingga kami hanya menerka – nerka saja yakni bila dianggapnya bahwa ‘KERIS TERKUTUK” ? yang dimaksudkan bisa jadi ‘TUJUH KETURUNAN KUTUKAN KERIS MPU GANDRING”, karena konon Sang MPU berlama – lama menyelesaikan pembuatannya sehingga membuat sang pemesan Ken Arok murka sehingga keris yang belum jadi tsb. ditusukkan pada MPU Gandring sehingga dia meegang nyawa sambil bersumpah bahwa 7 turunan Ken Arok akan terbunuh dengan keris buatannya tsb.

Nah dongeng dan legenda tsb.yang dikisahkan oleh seorang brahmana penysun kitab Pararaton yang anonim tsb. seyogyanya kita kritisi, benarkah? karena membaca sejarah tidak cukup secara harfiah karena banyak yang tersurat disamping yang tersirat juga harus membandingkan dengan kitab – kitab yang lain serta berbagai penunjang lainnya seperti prasasti, artefak, candi, rontak danlain sebaginya.

Nah kami beruntung dapat copyan discursus ‘KEN AROK DIMATA SEORANG PELAUT TUA” karya (Alm) Kol. R. Hadi Kustaryo seorang pengagum berat pada sosok Ken Arok, waktunya siang malam dihabiskan untuk mencari kebenaran ttg diri pujannya. Sayang discourse yang dipersembahkan ke Panglimanya tidak mendapat apresiasi sewajarnya sehinga membuatnya frustasi. Kebetulan kami memiliki koleksi keris dan oleh teman saya dilihatnya salah satunya mengeluarkan aura yang aneh sehingga setelah ditayuhnya (konon) itu keris MPU GANDRING, dan mendapatkan kendogo (cupu) berisi abu yang telah dibuang/dibersihkan, ternyata itu (konon) abu jenazahnya Ken Arok. Oleh karena itu kami berkewajiban samampunya meluruskan kesejarahan KEN AROK sehingga dengan bahan tsb. dan berbagai referensi akhirnya tersajikan (draf) buku berjudul “KEN AROK (ABHISEKA SRI RAJASA SANG AMURWA BHUMI) TOKOH REVOLUSIONER ABAD XIII) SEBAGAI SANGGAHAN ATAS KITAB PARARATON”, yang teramat sayang masih belum menemukan penerbit maupun sponsorship.

Oleh sebab itu seyogyanya kita menahan diri untuk tidak menghujatnya sebagai perampok, pembunuh, tokoh kupdeta terhadap Tunggul Ametung dan kemudian pada Sri Kerta Jaya raja Kediri serta perebut isteri orang, dan semacamnya. Sama halnya terhadap diri Sang Penggali PANCASILA. Sang Proklamator dan Presiden RI I Dr. Ir. Soekarno yang sangat berjasa bagi bangsa ini namun justru gambar fotoya pun pernah diharamkannya. beliau dicap tokoh kudeta terhadap dirinya sendiri, tokoh abused of power, diktator, dan penganak emasan PKI dan lain sebagainya.

Sebagai ilustrasi KEN AROK adalah Rajasa, Ciwa, Ksitidareswara, Girindra, Giripati, Girinatha, Bethara Guru semua sinonim RAJA GUNUNG alias KEN AROK. Perlu diketahui bahwa ANUSAPATI adalah anak kandung KEN AROK DG KEN DEDES & R. WIJAYA adalah canggahnya. Bila KEN AROK itu tokoh bejat, amoral maka tak mungkin R. Wijaya menggunakan nama canggahnya RAJASA dan seluruh anak cucu Mojopahit selalu mengguanakan gelar Ken Arok!

Alangkah bijak – bajik dan arifnya manakala kaum sejarawan berkenan meluruskan sejarah KEN AROK & BUNG KARNO bersama kaum spiritualis, agar jangan menjadikan dosa bagi generasi ke generasi gara – gara keliru dalam menyajikan sejarah yang cenderung selalu saja bengkok!

BAGIAN I. PEMBUKAAN

A. KESEJARAHAN KEN AROK.

Dalam sejarah belum ditemukan secara pasti siapakah orang tua Ken Arok yang sebenarnya, karena hingga kimi masih belum ditemukan bukti – bukti otentik baik berbentuk prasasti, lontar dll. Termasuk nama Ken Arok itu sendiri. Sehingga bicara masalah kesejarahannya tentu saja akan mengundang polemik.

Maka guna menguak kebuntuan tersebut wacana lain yang bersifat irasional mungkin dapat digunakan dengan harapan semakin giat melakukan penyelidikan dan kajian yang bersifat ilmiah. Para ilmuwan akan bijak manakala tidak senantiasa hanya mau berkaca pada rasionalitas dan obyektifitas semata, Mengapa ? Karena kecerdasan spiritualitas itupun harus dimiliki oleh setiap manusia tidak hanya kecerdasan akal piker dan kecerdasan social belaka.

Karena rasionalisme itu sebenarnya tidak rasional sebab rasionalisme itu datang atau muncul dari intuisi yang gaib. Rasionalisme yang merupakan kemampuan untuk membangun suatu system yang tertutup yang mencakup keseluruhan realita berdasarkan akal semata. Dimana dalam prakteknya tidak terlepas dari suatu dogma yakni merupakan azas yang dipandang benar yang dijadikan aturan main. Dari situlah timbul paradidma – paradogma yaitu system dogmatika. Suatu contoh sekalipun seseorang memiliki gelar Profesor, Doktor, PhD dan sederet gelar lainnya manakala dia tidak mengetahui dogma tentang permainan catur maka tentu mereka tidak akan mungkin dapat melawan dan mengalahkan seorang anak SD yang mengetahui dogma catur itu.

Oleh karena itu antara subyektivitas dengan obyektivitas adalah merupakan pasangan yang tidak terpisahkan, sungguhpun demikian tidak sembarang obyektivitas senantiasa menjamin kebenaran sebaliknya tidak sembarang subyektivitas itu keliru. Bila direnungkan bahwa obyektivitas itu sebenarnya subyektif pula karena bukankah obyektivisme itu berarti suatu keyakinan kita mengenai kebenaran obyektivitas ? Akan tetapi bukankah “keyakinan & kebenaran” itu subyektif? Dengan kata lain bahwa sebenarnya rasionalisme itu tidak rasional karena muncul dari intuisi yang gaib. Perlu diingat bahwa manakala obyektivitas itu bertentangan dengan subyektivitas pasti ada sesuatu yang keliru. Karena itu mengingkari hokum alam karena semua tercipta dalam bentuk yang saling berpasang – pasangan.

Gaib itu sebenarnya dapat pula diilmiahkan walaupun yang gaib itu dianggap tidak ilmiah dan setelah gaib itu nyata maka sudah tidak gaib lagi. Teramat banyak contoh disekitar kita para leluhur demikian hebat dengan berbagai intuisinya ada manusia bias terbang yang disimbulkan dalam pewayangan dengan nama Gatotkoco, yang dapat menyelam dalam laut dan bumi Antorejo yang dapat menghilang Antoseno dan berbagai senjata seperti pasopati yang mampu menembus langit dan mengena sasaran pada Sang Gatotkoco sehingga gugur ? Orang yang mampu berkomunikasi dengan orang lain ditempat yang berbeda dan seribu satu ceritera lainnya sehingga para ahli dengan intuisinya pula mampu menciptakan listrik, pesawat terbang, kapal selam, rudal, computer, handphon dan seribu satu produk terhnologi lainnya.

Ditelisik dari kacamata metafisika bahwa Ken Arok adalah masih putra dari Raja Kediri yakni Sri Aji Jayabaya, yang lahir pada Minggu Wage dan wafat pada Sabtu Kliwon. Pendapat itu tentu saja amat lemah namun manakala menggunakan logika kiranya dapat membantu suatu analisa yang sifatnya umum. Nampaknya sudah menjadi kebiasaan bahwa para Raja pada umumnya baik dalam menjalankan pemerintahannya atau bercengkerama sering turba (turun kebawah) maupun ke pelosok desa dan hutan belantara guna berburu ataupun bercengkerama.

Dalam perjalanan tersebut mungkin saja Sang Raja terpesona dengan keelokan seorang gadis yang akhirnya dikawininya dan dikaruniai seorang putra atau putrid yang sering diistilahkan dengan “lembu peteng”. Alasan ke dua dalam budaya Jawa dikenal dengan istilah “kacang ora ninggalake lanjaran: artinya seorang anak akan memiliki sifat – sifat ayah – bundanya.

Pada umumnya seorang pemimpin biasanya akan menelorkan pemimpin – pemimpin baru, amat banyak contoh di sekitar kita bahkan di abad modern ini dari Amerika Serikat, India, Korea, Pakistan, Philipine, dan Indonesia dsb. Jadi amat mustahil bila Ken Arok adalah anak (biologis) aseorang rakyat jelata apalagi anak seorang perampok, pencuri dan semacamnya.

Nama Ken Arok1 hanya terdapat dalam Serat Pararaton Atawa Katuturanira Ken Arok yang terjemahannya adalah Daftar Raja – Raja Tumapel dan Majapahit atau Biografi Ken Arok. Yang diduga ditulis oleh seorang Brahmana Kediri yang melarikan diri ke Bali pada sekitar 1528-an,

______________________________________________________________________

1 Nama Ken Arok mungkin juga hanya gubahan Penulis Pararaton saja. Seperti juga nama Ken Dedes yang tidak tercantum dalam Prasasti manapun. Arok berarti pembangun baik ajaran maupun pemerintahan. Arok disebutkan putra Ken Endog (telur) tentunya ini nama sanepan apalagi disunting oleh Dewa Brahma, maka tentulah tidak sulit untuk mencernanya bahwa itu juga sanepan dari nama yang sangat berkuasa yang berjiwa Brahma, tentu tak lain adalah Raja dari Kahuripan/Kediri yakni Jayabaya. Lalu apa makna penuturan Ken Endog kepada Ki Lembung (penemu orok) yang diumpamakan “beribu dua berayah satu” ? Artinya ada ibu kandung & ibu menyusui. Sampai kimi masih ditemukan adanya adapt komunitas Jawa bila memiliki bayi yang baru lahir yang dianggap sukerta atau kelaknya akan bernasib jelek maka (seolah – olah) bayi tersebut dibuangnya agar ditemukan oleh orang lain (biasanya sanak kerabatbya) dan bias juga dalam artian spiritual yang mungkin suatu reinkarnasi yang memang ada dalam ajaran agama Hindu maupun Budha.

Ken sendiri dalam bahasa Yunani bermakna bagus, cantik, rupawa tapi apakah itu ada kaitannya ? nampaknya sulit untuk dijadikan acuan.

Saat terjadi serangan dari kerajaan Demak, Sultan Trenggana. Namun ternyata Serat itu ditulis pada 1535S aqtau tepatnya selesai pada 3 Agustus 1613 yang tidak menyebutkan identitas sang Penulis.

Jadi antara kejadian dan penulisan jaraknya lebih dari 350 tahun. Bahasa yang dipakai dalam Pararaton sudah bukan bahasa Jawa yang dipakai pada jaman Majapahit. Oleh karenanya kita harus kritis sekali dalam membaca Kitab Pararaton tersebut.

Ken Arok dalam Pararaton adalah Garbhopati Maharaja Tumapel I yang mengambil Abhiseka Sri Rajasa, Bethara Sang Amurwabhumi atau Sri Rajasa, Raja pendiri Negara. Secara metafisis arti Rajasa adalah Yang Merebut Tahta (Bertahta) sedangkan Amurwabhumi adalah Yang Membuat Pranatan (aturan – tatalaksana) Pemerintahan dan Pendiri Negara. (Mempersiapkan Tumapel dua dasawarsa dan merebut tahta Kediri)

Lebih jauh Ken Arok digambarkan dalam Pararaton sebagai seorang yang berasal – usul tak jelas dan berperangai amat jelek dan wafatnyapun diujung keris (Empu Gandring), oleh Anusapati, Sang anak tirinya.

Mungkin Penulis Paraton tidak bermaksud lain kecuali menggambarkan bahwa Ken Arok memang orang besar dan Penjelmaan Dewa Wisnu (Loh Gawe)

Sepertiga dari kata – kata dalam Pararaton dipergunakan untuk berceritera tentang Ken Arok dari judulnya saja sudah memberi kesan bahwa Tumapel dan Majapahit itu hanyalah bagian saja dari biografi Ken Arok.

Pararaton berkisah sampai tahun 1478. Saat wafat Raja terakhir Majapahit, dengan candra sengkala Sang Mokta ring Kadaton I Caka Sonya Nora Yuganing Wong (yang wafat di Istana tahun 1400C/1478M) atau saat runtuhnya Kerajaan Majapahit (Prabhu Alit ASngkawijaya atau Brawijaya V).

Negarakertagama. Sebuah Puja Sastra karya Dharma Dhyaksa Kasogatan Mpu Prapanca, Mentri Agama Budha dalam Kabinet Gajah Mada, tentang Raja Pertama Tumapel menyebutkan : Ranggah Rajasa, adalah putra Ciwa, ia Komandan (Raja) tentara lahir tahun 1182, seorang warlord yang melakukan dharmanya di kaki Timur Gunung Kawi, berontak terhadap Kediri tahun 1222, yang memerintah dan wafat pada tahun 1227, dimakamkan di Candi Kagenengan dab diarcakan sebagai Ciwa adalah moyang raja diraja yang memerintah Majapahit.

Banyak sejarawan yang menyangsikan kesejarahan Ken Arok namun setelah diketemukan Prasasti Mula Malurung 1255 pada tahun 1975 dan Prasasti Sapi Kerep yang dibikin hanya berselang dua puluh tahun (1275) dan dari Prasasti Mul Malurung, yang ditemukan pada Maret 2003 yang kini disimpan pada Museum Empu Tantular di Surabaya, pendapat itu berubah.

Dalam Prasasti Mula Malurung (Lempengan IX) menyatakan bahwa : “…….. Prabhu2 Seminingrat adalah cucu Bhatara Ciwa3 yang wafat di atas Tahta Kencana, Pendiri Negara yang sekarang diperintah oleh Sang Prabhu (Seminingrat) 1248 – 1268 …….”.

Nama Pendiri Negara Tumapel ini tidak tercantum dalam prasasti manapun, kecuali sebagai (1) Wangsakara4 : Rajasawangsa5 pada Prasasti Balawi 1305, Ksitidareswarawangsa6 pada Prasasti Waringin Pitu (1447), Girindrawangsa7 pada Serat Lubhaka atau Ciwakalparatri oleh Mpu Tanakung yang ditulis antara tahun 1468 – 1478

Dalam Prasasti tersebut yang dimaksud dengan Bhatara Ciwa tak lain adalah identik dengan Ken Arok (Pararaton) dan juga identik dengan Rangga (h) Rajasa (dalam Nagarakertagama).

Disamping itu banyak terdapat sebagai (2) Abhisekakkara8, Raja – raja yang memerintah Majapahit atau Negara – negara vasalnya. Contohnya K Kertarajasa Jayawardhana9 (R. Wijaya), Giriwiralandaghopala Sundarapandyadewa Adhiswara10 (Jayanegara), Giripatiprasuta Bhupati Kethubhuta11 (Raja terakhir Majapahit), Girindrawardhana Dyah Rana Wijaya12 Bhre Keling (terakhir) dan seterusnya hamper semua Maharaja Majapahit & Raja Bawahan memakai kata ini pada abhiseka mereka.

Rajasa, Ciwa, Ksitidareswara, Girindra, Giripati, Girinatha, Bethara Guru semua synonym : Raja Gunung alias Ken Arok.

Pemilik Pertama nama itu pasti seorang yang luar biasa sehingga namanya dikenakan hamper seluruh Maharaja dan Raja bawahan lebih dari tiga decade (abad). Dapat disimpulkan disini bahwa pasti tidak sekedar hanya ada orangnya saja (melainkan juga maha karyanya).

Sekalipun menurut Prasasti Balawi 1305 ia dinyatakan sebagai keturunan kebanyakan. Dia adalah Raja Pertama Pribumi : Sebelumnya adalah orang – orang dari India.

______________________________________________________________________

2 Prabhu = Maha Raja, Bhatara = Raja. Di Jatim : (1) Kediri 1007 – 1222 (2) Tumapel 1222 – 1292 dan (3) Majapahit 1294 – 1478 (4) Keling /Kediri 1478 – 1527. Diperintah oleh Prabhu atau Maharaja. Penguasa Bawahan adallah Bhatara atau Raja, seperti Bhatara I Wengker, I Mataram, I Pajang etc; 3 Bhatara Ciwa punya terjemahan : Agama Raja adalah Siwa, Nama Raja adalah Siwa dan sangat mungkin benar adalah Nama atau abhiseka Raja adalah Rajasa; 4 Nama Dinasti ; 5 Prasasti Balawi 1305; 6 Prasasti Waringin Pitu 1447; 7 Civaratrikalpa oleh Mpu Tanakung : Girindrawangsaja = Girindrawangsa; 8 Elemen nama. Kertaraqjasa Jayawardhana (abhiseka), dan Rajasa adalah elemen Abhiseka atau abhisekara; 9 Prasasti Balawi 1305; 10 Prasasti Tuhanyaru 1323; 11 Prasasti Pamitihan 1473; 12 Prasasti Trailokyapuri 1486 (Raja Hinndu terakhir) Nama Raja Keling tidak lagi disebut Pararaton : Bukan Raja Majapahit.

BERSAMBUNG

sungkem kami

Youth Empowering Institution/Yayasan Lembaga Budaya Nusantara/

Keluarga Besar Persaudaraa Blokosuto.

sumber:http://www.facebook.com/groups/174957772529092?view=doc&id=244183235606545

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s